Tak Berpendar
Warna indah ini
Lebih indah dari jutaan warna
Hanya saja
Tak berpendar
Disinilah pertikaian jiwa merobek
Mensuir-suir ladang kedamaian
Dalam diam ku bertempur
Merontaku dalam kesunyian
Tak pantaskah seorang yang gagal menuntut lebih?
Tak seharusnyakah menanyakan itu?
Batu batu kepastian telah hancur
Terbentur berlian keraguan
Merungsing benakku dikala
Malamku tersayat sepi
Hanya ditemani petir-petir anggun
Merongrong dikajuhan sana
Jamur jamur kejenuhan mulai tumbuh disekucur tubuhku
Berdosakah jika mengharap tuk berkunjung kepada ajal
Kusam kumal rambutku dipenuhi debu kemalasan
Membusuk perlahan dalam pusara peristirahatan
Separuhku lelah, yang tersisa hanyalah jenuh
Tak semua yang indah itu membahagiakan
Jiwaku bukanlah jiwa murahan yang terus menunduk
Merundung dan mendiamkan takdir
Ingin diamku berujung berontak
Kutuliskan bait bait sepi dalam jenuhku
Pada sang penikmat
Engkau penikmat goresan kelam berpadu indahnya pelangi
Akulah manusia yang tersudut tajamnya pedang-pedang penghakiman
Tak kan bisa engkau menyelamatkanku dari rasa ini
Dimana pedang-pedang yang kubuat sendiri siap menikam ragaku sendiri
Aroma penyeselanlah yang tercium pekat
Kabut-kabut kesalahan lah yang menutupi pandanganku
Raga ini berjalan dengan nafas sesak hingga ajal mendekat
Aku lari darinya, berjuang lupa menggerayang dewi yang jauh dariku
Akulah sampah tak berguna yang mengusung super ego bodoh
Menaburi garam dilukanya, menekan lukanya
Hingga ia menjerit dalam tangis kesendirian
Aku bodoh dan gila, kiasan tak cukup melukiskan
Langit ini kian gelap, petir-petir menyambar disana-sini
Menggempur menyorakkan perintah kematian atas penyesalan
Sungguh takdir apa yang aku jalani,
Hingga pitagoras menggelengkan kepalanya
Dan berkata
"Betapa bodoh, keras kepala dan gilanya makhluk yang satu ini"
Bahkan teriakkan dalam hati yang mengandung penyesalan
Terucap dari bibir belum mampu menyembuhkan luka-lukanya
Ajal, benarkah engkau begitu?
Kebenaran yang pahit. Setelah kebohongan yang indah?
Aku tak mampu membendung, menyimpan dan mengolah
Lautan kesemrawutan rasa penyesalan ini
Tak ingin lagi ku mengunjungi neraka dunia
Yang dulu kusinggahi
Tuhan...
Tolong maafkanlah apa yang tlah kami perbuat
Maafkan aku dewiku
Siksa setimpal aku di neraka
Hingga jiwa ku bersih dari lumut-lumut dosa
Virdos K - 15 Desember 2018
Lebih indah dari jutaan warna
Hanya saja
Tak berpendar
Disinilah pertikaian jiwa merobek
Mensuir-suir ladang kedamaian
Dalam diam ku bertempur
Merontaku dalam kesunyian
Tak pantaskah seorang yang gagal menuntut lebih?
Tak seharusnyakah menanyakan itu?
Batu batu kepastian telah hancur
Terbentur berlian keraguan
Merungsing benakku dikala
Malamku tersayat sepi
Hanya ditemani petir-petir anggun
Merongrong dikajuhan sana
Jamur jamur kejenuhan mulai tumbuh disekucur tubuhku
Berdosakah jika mengharap tuk berkunjung kepada ajal
Kusam kumal rambutku dipenuhi debu kemalasan
Membusuk perlahan dalam pusara peristirahatan
Separuhku lelah, yang tersisa hanyalah jenuh
Tak semua yang indah itu membahagiakan
Jiwaku bukanlah jiwa murahan yang terus menunduk
Merundung dan mendiamkan takdir
Ingin diamku berujung berontak
Kutuliskan bait bait sepi dalam jenuhku
Pada sang penikmat
Engkau penikmat goresan kelam berpadu indahnya pelangi
Akulah manusia yang tersudut tajamnya pedang-pedang penghakiman
Tak kan bisa engkau menyelamatkanku dari rasa ini
Dimana pedang-pedang yang kubuat sendiri siap menikam ragaku sendiri
Aroma penyeselanlah yang tercium pekat
Kabut-kabut kesalahan lah yang menutupi pandanganku
Raga ini berjalan dengan nafas sesak hingga ajal mendekat
Aku lari darinya, berjuang lupa menggerayang dewi yang jauh dariku
Akulah sampah tak berguna yang mengusung super ego bodoh
Menaburi garam dilukanya, menekan lukanya
Hingga ia menjerit dalam tangis kesendirian
Aku bodoh dan gila, kiasan tak cukup melukiskan
Langit ini kian gelap, petir-petir menyambar disana-sini
Menggempur menyorakkan perintah kematian atas penyesalan
Sungguh takdir apa yang aku jalani,
Hingga pitagoras menggelengkan kepalanya
Dan berkata
"Betapa bodoh, keras kepala dan gilanya makhluk yang satu ini"
Bahkan teriakkan dalam hati yang mengandung penyesalan
Terucap dari bibir belum mampu menyembuhkan luka-lukanya
Ajal, benarkah engkau begitu?
Kebenaran yang pahit. Setelah kebohongan yang indah?
Aku tak mampu membendung, menyimpan dan mengolah
Lautan kesemrawutan rasa penyesalan ini
Tak ingin lagi ku mengunjungi neraka dunia
Yang dulu kusinggahi
Tuhan...
Tolong maafkanlah apa yang tlah kami perbuat
Maafkan aku dewiku
Siksa setimpal aku di neraka
Hingga jiwa ku bersih dari lumut-lumut dosa
Virdos K - 15 Desember 2018
