Sangkakala

Dingin nan kering Sepi menyeAngat Dikala hujan badai Petir menyambar Getah bening keluar dari mata Hati tersedak merengkuk tangis Jiwa ku terbakar cepat Bak hutan kering berapi Jiwa ku ingin meledak Bagai letupan sang Merapi Kan kuceritakan kisah mahligai keluarga kedasih yang usang Burung burung kedasih yang terlahir dari kedalaman hutan Memilih tinggal dibawah atap rumah sepeasang sedjoli mandul di sebuah perkotaan Burung itu menukarkan waktu mencari makan meneteskan keringat Sehari-hari dijejali oleh drama sang sedjoli Kawinlah sang kedasih hingga beranak-ruak. Demi perut dan keturunannya Sang kedasih kini berkeluarga besar. Hingga lebatlah bulu-bulu mereka mengejar impian Lupalah burung itu akan kejujuran, demi sanggul yang dikenakan Lebat bulu bulunya menampakkan kecongkakkan Tak ingin menerima ludah dia menunjukkan amarahnya. Burung kedasih yang berjiwa besar kini hina dihiasi drama-drama murah dari sedjoli mandul. Burung itu membunuh dirinya secara perlahan dengan lupa, congkak dan amarah Aku jiwa yang menunggu tulang benulang kedasih itu. Bukanlah dendam yang ada padaku Kebahagiaanlah yang ada padaku Ketika melihat burung-burung itu menderita dan Tertampar oleh lakunya sendiri Lihatlah engkau jiwa yang murah Terdidik oleh lingkup yang serba memaksa Aku menunggu kematianmu untuk tertawa Pukullah aku sepuasmu hingga jatuh derajatmu dibawahku Engkau tau? Akulah yang membelokkan cerita indah titisanmu Yang engkau didik dengan ketegangan dan amarah, Yang engkau banggakan dengan segala kesuciannya Sayang berjuta sayang diapun lupa dan sombong Kini marahnya mengusirku hingga aku terlempar jauh Menghindar dari bulu bulu rontoknya Pincang bukan? Tak perlu hingga sangkakala berbunyi Kini engkau perlahan hancur Aku benci ketika ku berkumpul ditengah-tenagahmu Harusku keluarkan segala sikap palsuku Senyum, gelak tawa, dan candaan Lihatlah dunia yang menuju ambang kiamat Harusnya engkau sadar senyuman yang melebar ditarik rasa kepura-puraan Apa yang engkau cari? Apa yang engkau inginkan? Mengapa tak mati saja jika ingin bertemu tuhan? Mengapa terus saja, lagi dan lagi berlaku demikian? Gila tapi tak ingin disebut gila Menderita tapi berlaku bahagia Aku hanya ingin merobek kulit wajahmu Di tengah amarah yang kian membara Aku terus berdoa Kiamatkanlah dunia ini Hingga musnahlah segalanya Karena dunia yang penuh kebohongan ini Banyak manusia yang menari dengan lalai Virdos K - 21 Mei 2018

Postingan Populer

Gambar

Bahasa Penyair