Gerimis Sore Hari
Tertegun ku dirintik gerimis sore hari
Awan abu-abu gelap itu
Menenggelamkan jiwa dalam kelam
Senyum senang dan meringis sakit
Tertera dalam bibirku
Membutakan indahnya tertawa
Terbangun lagi aku yang terlelap
Dalam Keputus-asa-an.
Seseorang dengan keras berteriak
"Janganlah kau menyerah pada kehidupan!"
Suara yang tak kan hilang digerus waktu,
Menyematkan dengan pasti dan tegas
Api-api semangat dijiwa.
Tak akan lagi goyah hati ini.
Kurendahkan hati ini hingga
Tiada lagi yang merendahkan.
Gerimis ini menjadi saksi
Ketika aura-aura ku memberontak
Melihat kebenaran-kebenaran sejati.
Merekalah orang yang selalu kesepian,
Yang penuh dengan kebaikan.
Merekalah orang yang selalu bersedih,
Yang mempunyai senyuman terindah.
Dan merekalah orang yang rusak,
Yang pasti dan paling bijaksana.
Rintik-rintik itu berjatuhan,
Kulihat lantai basah itu memantulkannya.
Bagai mereka si munafik
Terjatuh ditampar kebenaran.
Mereka selalu bersorak ramai
Di tengah ketidak-tahuannya
Mereka berbising ria penuh sensasi
Di dalam kesesatannya
Merekalah sampah
Yang tak ingin disebut sampah.
Hingga hari pembalasan itu tiba,
Rintik-rintik itu terus berjatuhan.
Hujan itu tak kunjung datang...
Hujan bintang yang membinasakan
Yang menenggelamkan seluruh daratan
Yang meniupkan gunung-gunung itu bagai bulu
Alam mungkin sudahlah muak
Menunggu hujan itu.
Saat inilah gerimis itu
Saat jiwa ini terbangun dengan api-api semangat,
Melangkahlah ku dengan kuat
Berjalanlah ku dengan pasti
Berlarilah ku dengan tegas
Mengejar selendang-selendang mimpi
Yang terbang melayang
Diselah gerimis yang membuat kabung di hati.
Virdos - 22 Desember 2016
Awan abu-abu gelap itu
Menenggelamkan jiwa dalam kelam
Senyum senang dan meringis sakit
Tertera dalam bibirku
Membutakan indahnya tertawa
Terbangun lagi aku yang terlelap
Dalam Keputus-asa-an.
Seseorang dengan keras berteriak
"Janganlah kau menyerah pada kehidupan!"
Suara yang tak kan hilang digerus waktu,
Menyematkan dengan pasti dan tegas
Api-api semangat dijiwa.
Tak akan lagi goyah hati ini.
Kurendahkan hati ini hingga
Tiada lagi yang merendahkan.
Gerimis ini menjadi saksi
Ketika aura-aura ku memberontak
Melihat kebenaran-kebenaran sejati.
Merekalah orang yang selalu kesepian,
Yang penuh dengan kebaikan.
Merekalah orang yang selalu bersedih,
Yang mempunyai senyuman terindah.
Dan merekalah orang yang rusak,
Yang pasti dan paling bijaksana.
Rintik-rintik itu berjatuhan,
Kulihat lantai basah itu memantulkannya.
Bagai mereka si munafik
Terjatuh ditampar kebenaran.
Mereka selalu bersorak ramai
Di tengah ketidak-tahuannya
Mereka berbising ria penuh sensasi
Di dalam kesesatannya
Merekalah sampah
Yang tak ingin disebut sampah.
Hingga hari pembalasan itu tiba,
Rintik-rintik itu terus berjatuhan.
Hujan itu tak kunjung datang...
Hujan bintang yang membinasakan
Yang menenggelamkan seluruh daratan
Yang meniupkan gunung-gunung itu bagai bulu
Alam mungkin sudahlah muak
Menunggu hujan itu.
Saat inilah gerimis itu
Saat jiwa ini terbangun dengan api-api semangat,
Melangkahlah ku dengan kuat
Berjalanlah ku dengan pasti
Berlarilah ku dengan tegas
Mengejar selendang-selendang mimpi
Yang terbang melayang
Diselah gerimis yang membuat kabung di hati.
Virdos - 22 Desember 2016
