Si Sulung
Sepi...
Yang kurasakan,
Jiwa kering nan kelam dalam gelap.
Indahkan segala perasaan.
Iya-kan segala perbuatan.
Walau berontak segalanya,
Aku tetaplah sepi.
Datanglah padaku seorang sulung
Diendap kesepian tak murung begitu saja.
Bercerita, bertatap, bersenyum.
Tak lagi sepi datang karenanya.
Sang dewasa yang menghentikan segalaku.
Yang menjadi imajinasi sayangku
Menghancurkan belenggu rantai liar kesendirian.
Menuntun pada dunia asri buatannya.
Sungguh ku merasakan semangat bahagia.
Dengan syukur
Dengan rasa
Dengan jiwa
Dengan lantang kukatakan padanya
"Tak akan berjanji, tak akan mengingkari.
Aku ingin hidup sebagai tawamu,
Sebagai candamu,
Sebagai bahagiamu,
Sebagai sedihmu.
Hingga sepi tak lagi hinggap diseri manismu,
Hingga sepi menjadi warna-warna yang pudar,
Hingga sepi, lupa kau untuk mengingatnya."
(Untuk Si Sulung Purwanti) Virdos - 26 November 2016
Yang kurasakan,
Jiwa kering nan kelam dalam gelap.
Indahkan segala perasaan.
Iya-kan segala perbuatan.
Walau berontak segalanya,
Aku tetaplah sepi.
Datanglah padaku seorang sulung
Diendap kesepian tak murung begitu saja.
Bercerita, bertatap, bersenyum.
Tak lagi sepi datang karenanya.
Sang dewasa yang menghentikan segalaku.
Yang menjadi imajinasi sayangku
Menghancurkan belenggu rantai liar kesendirian.
Menuntun pada dunia asri buatannya.
Sungguh ku merasakan semangat bahagia.
Dengan syukur
Dengan rasa
Dengan jiwa
Dengan lantang kukatakan padanya
"Tak akan berjanji, tak akan mengingkari.
Aku ingin hidup sebagai tawamu,
Sebagai candamu,
Sebagai bahagiamu,
Sebagai sedihmu.
Hingga sepi tak lagi hinggap diseri manismu,
Hingga sepi menjadi warna-warna yang pudar,
Hingga sepi, lupa kau untuk mengingatnya."
(Untuk Si Sulung Purwanti) Virdos - 26 November 2016
