Pemuja Rasa
Untuk seseorang yang mungkin tak mengenalku.
Teriaklah ku dalam hati yang gusar,
Hati yang telah terperosok ke dalam jurang tak berujung.
Entah benar atau salah
Dunia ini sudah mulai indah
Kupertaruhkan perjuangan ini
Dalam judi kuburan perasaan.
Sungguh pahit sudah ku kecap
Tiada jalan kembali.
Kalah kan jadi senyuman gila
Menang kan jadi senyuman bahagia.
Ketika realitas menciumku
Binar-binarku bersendu meratap.
Menangis berteriak hujatan
Meyakini kenyataan.
Realitas bukanlah duniaku.
Dimana makhluk bertopeng hidup saling membunuh
Ku pastikan untuk mati disurga kenyataanku.
Terlalu banyak orang yang memilih indahnya kebohongan
Dibanding pahitnya kejujuran
Maka berbohonglah agar terlihat indah
Atau jujur dan jadilah mahoni yang jatuh dari pohonnya.
Terkadang aku hanya ingin tertawa,
Dilanjut dengan diam lalu menatap,
Setelah itu merenung dan berpikir,
Tak lama kemudian Tersadarlahku dalam guncangan.
Hina dan busuk.
Sesuatu yang tak pantas dibunuh.
Hanya dapat dikutuk dan diasingkan.
Dan lihatlah hasilnya
Neraka yang kau janjikan telah tiba padaku.
Bukan lebih baik untuk menikmati penderitaan,
Tapi apa penderitaan itu mau untuk merundungku?
Aku disini tersenyum sayu,
Kau disana berseringai membalas.
Bersalahkah dirimu?
Virdos - 23 november 2016

