Secangkir Kopi dan Sebatang Rokok
Secangkir kopi dan sebatang rokok
Kuhirup kopi panas itu penuh kenikmatan…
Kuciumi aromanya yang khas dan kuhisap sari patinya …
Kugigiti bulir bulir kecil kopi itu sambil kuresapi
kegurihan tubuhnya…
Ia mulai bergulir dilidahku dan rasa itu mencapai kepuasannya…
Kuhembuskan asap putih rokok itu hingga perlahan menyebar…
Mengalirkan aroma bau khas tembakau yang menyesakkan…
Membius menggelorakan dan menghabiskan nafasku…
Perlahan kuletakkan dan kutekan berputar hingga bara itu
sirna…
Secangkir kopi adalah awal mula kehidupan…
Yang hangat yang memberi semangat dan mengalirkan gairah…
Kita akan melangkah dengan gagah memulai kodrat kita…
Pahitnya tantangan dan manisnya keberhasilan… itulah hidup…
Sebatang Rokok adalah pelengkap sempurna…
Tentang racun dunia dan makna hidup…
Yang dihirup dan terhirup pada tiap tarikan nafas…
Hingga rasa sakit itu datang untuk menghapus sebagian dosa…
Kafein dan Nikotin itu biarlah bersamaku…
Kalian jadi punya contoh cermin buruk tentang hidup…
Secangkir kopi dan sebatang rokok ku lewati hari ini dengan
pertanyaan..”adakah cinta untukku untuk esok hari?”.
Sementara asbak rokok sudah mulai penuh dengan belasan
batang rokok yang kuhisap semalam, dengan demikian berpuluh puluh lubang
bertambah di paru paruku, entahlah bagiku rokok adalah sahabat sejatiku.
Kutengok jendelaku yang kusennya sudah mulai lapuk, penjaja
keliling sudah mulai bertarung dengan dingin malam, hanya untuk mengejar rupiah
untuk menghidupi keluarganya.
Sementara…
Seperempat abad bukan waktu yang singkat. Cerita atau lebih
mendekat pada sebuah legenda, terjadi dengan haluan yang tidak jelas akan
kemana menepi. Kehidupanku seperti angin tak dapat kulihat bagaimana bentuk
rupanya karena sampai sekarang ini aku belum melihat titik kemana kaki hidupku
akan melangkah, setidaknya aku masih bisa berharap dan bercita-cita agar
hidupku bermakna, paling tidak untuk diriku sendiri terlebih orang-orang yang
berada si sekitarku. Kata-kata…aku tak tahu lagi dengan kalimat yang bagaimana
kulukiskan perasaanku saat ini, kegamangan, kebingungan, entah perasaan apa
lagi yang menari-nari di kepala dan di dadaku.
Inikah hidup?’ entahlah, kebingungan ini telah menjelma
seperti sebuah bom waktu yang memiliki daya ledak yang maha dahsyat dan aku tak
tahu kapan itu akan meledak dan bagaimana atau apa yang akan terjadi pasca
ledakan itu?. apakah aku akan ikut hancur dan terporak poranda bersamanya atau
kebingungan itu sendiri yang akan lenyap untuk selama-lamanya? kuharap begitu.
Hidupku menyerupai sebuah simponi karya kelas jelata, monoton,
lebih pada syair-syair yang berisi tentang kesedihan proletarier yang
dimarginalkan oleh nasib, yang tercipta oleh kebodohannya sendiri. Aku muak,
muak pada kehidupan yang manusia-manusia munafik yang mementingkan cara
berbicara ketimbang cara bertindak, juga muak pada sifat yang tidak menghormati
hidup orang lain, yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain.
Tubuhku adalah terjemahan dari sebuah hikayat kemanusiaan
yang memiliki sebuah kisah tentang perjalanan cinta, sayap-sayap ingatanku
masih menyisakan sosok perempuan masa kini yang menjunjung tinggi kesetiaan.
Sosok perempuan yang mungkin takkan pernah akan terhapuskan dari ingatanku,
sosok yang penuh pesona, bagaikan sekuntum melati yang tersiram ratusan tetes
embun pada suatu pagi.
Bayangan itu terus menari-nari di depan mataku, namun takdir
pula baru-baru ini merenggutnya dariku, beberap hari ini aku masih mencaoba dan
terus mencoba untuk menghapus sosok itu, sembari menyusun konsentrasiku untuk
menggarap sesuatu yang sudah bertahun-tahun terabaikan, yang merupakan syarat
yang pernah diberikannya padaku, uah walaupun dia telah pergi namun aku akan
terus menyelesaikan ini, yah… semua yang pernah menjadi janjikan akan tetap ku
perjuangkan, serumit apapun itu. Paling tidak sekarang aku ingin memberikan ini
kepada orang tuaku yang sudah beranjak semakin tua, paling tidak aku ingin
memberikan setitik kebahagiaan kepada mereka.
Sudah gilakah diriku? entah… kucoba rebahkan tubuh penatku
diatas tempat tidurku, mencoba bernegosiasi dengan pikiran untuk melupakan
peristiwa-peristiwa yang terjadi beberapa hari ini, ku matikan lampu kamarku
namun kegelapan justru mekin memperjelas dan mempertegas kesunyian itu, sebuah
sosok seakan melambai mencoba meraihku dan ku ulurkan tanganku coba untuk
merengkuh tangannya, namun tanganku tak sampai…terlalu jauh untuk ku raih,
sementara aku sudah terlalu payah, oleh keletihan yang amat sangat, terlalu
banyak peristiwa-peristiwa yang membuatku ingin segera beranjak darinya.
Namun aku tetap gelisah, ku miringkan badanku ke arah yang
sudah berkali kali pernah ku lakukan, namun sekuat aku berusaha, sekuat itu
pula bayangan itu menggangguku, seolah memaksaku untuk melakukan sesuatu yang
aku sendiri tidak tahu.
Selewat seperempat abad ini banyak hal yang telah tertanam
di dalam hati lalu menjelma manjadi sebuah gunungan hasrat yang tiada terlebihi
oleh apapun di dunia ini, hasrat itu menginginkan pribadiku tereinkarnasi dalam
sebuah pribadi yang sederhana namun memiliki penglihatan setajam elang, pikiran
setajam pisau cukur, perabaan atau intuisiku lebih peka dari ubur-ubur,
pendengaranku dapat lebih menangkap musik dan ratap tangis kehidupan, supaya
aku tidak akan menjadi manusia takabur, manusia yang lupa pada bagaimana dan
dimana peradabanya dimulai.
Sementara kakiku semakin letih melangkah, bahuku terlalu
berat menanggung beban yang lama menggayut. Yang terkadang membatasi ruang
gerakku, namun pikirankulah yang semakin lama semakin jauh melayang mengitari
langit-langit batok kepalaku, pikiran tentang sekuntum bunga yang kutemukan
pada suatu sore yang tak bernama. Bunga itulah yang tumbuh dan berakar didalam
hatiku. Bunga yang aromanya hanya mampu terwakili oleh kembang setaman, dimana
bidadari turun dan bermain main didalamnya. Hatiku luluh lantak hanya oleh
sekuntum bunga, bunga yang sama sekali tiada berduri, hanya aku sendirilah yang
menciptakan duri itu.
Angga prasetya 7 Desember 2016
