Chandikkala Ranjana


Wahai sendu yang merindu

Yang mengundang tangisku

Diterpa angin keringkan air mataku

Angin yang membelaiku menyusuri jalan ceritaku

OlehNya, jalan-jalannya terbuka lebar untukku

Aku merasa ditelanjangi dan malu menanggung dosa kecilku

Seakan Ia menonton dihadapanku

Aku lemah lunglai merengangkan maluku.

Wahai sendu, kedipkan mataku kala menetes air mataku

Dengan niat dengan hikmat...


Kala itu aku meminta munazat kepada ibu dan nenekku

Doakanlah aku tuk mendapatkan jodohku.

Tanpa titik dan koma balasan itu diterpa sambut kata

Amiin.


Lantas kulangkahan kaki ini keluar rumah

Kubiarkan telapak kaki ini menginjak bumi

Dikala gerimis menerpa kelopak mataku

Yang sayu meniru senyap

Memandang langit dengan penuh keyakinan

Menikam jiwa memastikan diri

Akan sesuatu yang datang dalam gusaran jiwa ini.


Secercak waktu terbuang sekejap menghilang...

Aku menemukan gadis jahe bermata safir.

Seorang gadis yang benar kudambakan dalam hati.

Aku, jiwa yang ada dalam diriku

Tak tahu sedikit pun mengapa

Seorang gadis jahe bermata safir yang kudambakan.

Seolah kuberenang dalam sesatnya ketidak-tahuan,

Terbang dalam sandekala yang menyenangkan,

Tak mengerti mengapa ku mendambakannya.


Tanpa lama ku memperhatikannya

Seakan ku bercermin kepada diriku sendiri.

Ia bagaikan aku ketika ku melawannya,

Ketika aku berada sebagai lelakinya.

Ia bagaikan tulang rusukku yang terlepas,

Mirip ku dengannya ketika bertengkar dan beradu.

Senyum manisnya, lentik tatapannya.

Dibuatku terlena dan terpesona karenanya.

Ia adalah aku ketika aku menatap matanya,

Ia adalah aku ketika nafasku berhembus beriringan disampingnya,

Ia adalah aku ketika kami saling melempar suah.


Oh...

Aku ingat, inilah takdir tuhan.

Ya, takdir yang benar-benar semena-mena datang

Dengan lancang bak dentuman yang kita susuri perlahan

Walau perih walau sedih. Ada damai dan bahagia.

Ada canda dan tawa. Ada tangis dan derita.

Itulah kisahku menemuinya.


Tuhan yang menontonku dari singgasananya

Masih menyayangiku yang terlepas tanpa arah

Terbang bebas membelah cakrawala

Menebas pengetahuan yang jarang

Melindas kejadian dan peristiwa

Membuatku makin dewasa dan sadar

Aku menemukannya.

Mahadewi ku.


Lantas...

Kutarik ia menemui sepasang kodratku

Kuperkenalkan ia walau dalam lamunan bingungnya

Aku hanya tak ingin bersampah mulut dan tindakan

Maka ku lewati waktu dan meninggalkan segala kebasian.

Benar adanya ketika aku bersungguh-sungguh kepadanya.

Ingin ku gandeng ia bersamaku tuk menyusuri hidup ini.


Ia berkata

"Waktu...

Kita butuh waktu untuk saling mengenal"

Ya benar, kala itu aku yang bagai orang gila,

Yang dengan keyakinan yang merajuk dihati.

Aku melempar tindak-tandukku serampangan,

Tanpa melihat dan meraba keadaan.

Aku lupa, aku menyusuri jalan yang tuhan beri ketika

Yang lain menyusuri tujuan hidupnya beriringan

Dengan takdir tuhan. Aku tak sekuat itu...

Tetap yakin, terus mengimani dan mengamini,


Sekejap berlalu masa-masa kita menelanjangi diri

Untuk diungkapkan dengan perasaan dan perkataan

Untuk dipahami dalam jiwa dan diri.

Sikap dan sifat, aib dan kehebatan.

Semua kita lalui dengan perjuangan jiwa dan raga.

Cobaan demi cobaan kita hadapi walau bagai badai.

Badai yang memporak-porandakan kita,

Kita yang terbengkalai dalam rongga-rongga sepi,

Kita yang ternoda dalam alunan sunyi,

Kita yang membahagiakan diri walau bohong.

Semua hilang ketika bersamanya.


Sekarang...

Aku dan dia tidak lagi naif dan kaku

Segala perasaanku dengannya kini menyatu

Bagai paku yang dihujam palu

Ia menancap dalam hatiku

Menancap begitu dalam

Terasa akan sangat perih ketika tercabut.

Maka kujadikan ia bagai si wanita dari diriku.


Hei wanitaku.

Kini sudah ku ikat engkau sebagai pendampingku

Tunggu waktunya hingga ku memaharkan mu.

Setelahnya...

Patuhlah engkau kepadaku, taatlah engkau kepadaku

Jadilah penyejukku kala api amarah membakarku

Jadilah engkau pelukkanku dikala ribut keluh kesahku

Jadilah engkau titik darah dan keyakinanku mengimaniNya.


Sekarang bukan egoku dan egomu

Melainkan ego kita yang menjadi satu

Kita sedjoli kala senja mendamaikan hati

Menentramkan jiwa yang menyapa pintu surga.

Dalam hening berkecap pasrah.

Aku yang mencintaimu karenaNya.


Hingga tuhanku berkata tidak,

Ingatlah bahwa aku yang berdiri dihadapanmu

Akan terus bersamamu dunia dan akherat nanti.


Walau aku hanyalah aku yang begini adanya


Siapa diriku kala diriku hanya berucap nafsu

Dengan niat sombongku

Aku terbiasa di injak dan di ludah

Ejekan kecil semua insan adalah doa besar bagiku

Terimakasih, tapi maaf kini berbeda

Tuhan telah menuntun dan merapatkan barisanku

Pada orang yang tiada sengaja

Terbiasa di injak kami tersentak bangkit

Terbiasa di lunjak kami tergerak pahit

Tak perlu membalas kalimatku

Tak perlu lagi.

Karena hanya lisan mentah yang di lontarkan

Wahai manusia yang memanusiakan dirinya

Sudah waktunya diriku menunjukkan siapa aku

Yang dilemahkan dan diperihkan ini

Lihat dan dengarkan

Suatu saat kabarku kan terdengar

Hingga ujung dunia


Itu jiwaku kala dikobarkan olehnya

Seorang mahadewi yang memberiku

Sebuah rasa yang hidup kembali dalam sanubari

Pantang ku menyebutnya hebat

Aku hanya bangga mempunyai mahadewi sepertinya

Dia dengan apa adanya dirinya



17 November 2020

Teruntuk, yang ku muliakan, yang ku kasihi dan ku sayangi atas nama tuhanku.


Postingan Populer

Gambar

Bahasa Penyair