Delik Psikedelik




Keluarlah air matanya ketika ku peluk erat tubuhnya

Ia berbisik "hiduplah layaknya burung yang terbang indah di luar sana
Hingga ku tiada, teruslah bentangkan sayap indahmu merobek cakrawala, mengibaskan angin-angin kebebasan"
Pilu ku mendengar getaran nada suaranya, yang merintih dan tersayu.
Tenanglah dan tidurlah...

Tenanglah wahai engkau yang terhiung gelisah
Apa yang bisa kulakukan tanpamu?

Dilatasi waktu membawaku merana dalam helaan nafas bahagia
Mengeringkan aku dalam bujuk rayu sang dingin penunggu ruang
Tertimpa aku dalam hujat rindu dan sayang
Bukan lagi sang sedih dan lumpuh yang ingin menghunuskan pedang kedalam pusarnya
Bukan pula sang tangis yang mengacungkan senapan di depan keningnya

Jam 3 dini hari
Kubacalah jiwaku dalam senyap, takut, ngeri dan ketidak-nyamanan
Kutatap ratusan tipuan dan terbawa dalam alunan
Ku petik setiap penggalan kata, mengaitkan berbagai makna
Menafsirkan ribuan maksud yang tersirat.
Bertemulah aku dengan diriku yang baru.

Kini aku menyusul,
Mulai membeku dari emas menjadi berlian
Dari busuk menjadi wewangian
Yang tidak takut lagi akan ketidak-tahuan
Yang menjadikan diri sendiri menjadi bahan tertawaan
Kini aku kuat bagai tiang yang penyangga langit
Akulah si jiwa baru yang timbul dari belaian kasih sayang

Janganlah khawatir
dan jangan membuatnya jadi menyedihkan
Kita akan selalu saling memandang, saling membalas senyum
Bagai keledai bodoh sedang jatuh cinta.
Tegakkan wajahmu bodoh...
Darahku mulai membeku, mencair dan menguap
Terasa bahwa jiwaku ingin berteriak menggemparkan suatu keindahan atas dirimu
Kini saat nya tersenyum dan tertawa bersama dipanggung kerinduan
Menitikkan tetesan air mata bahagia karenanya

Saat ini...
Bukan pelangi melengkung saja yang dalam pikirku
Rasanya bagai efek khusus video menjelma menerjemahkan pandanganku
Bangkit psikedelik dalam mataku bercampur dengan indah wujudmu
Berpadu rona menawan ruh suci mu
Kitalah korban yang bahagia
Kitalah realita yang membantai fiksi dunia

Hanya ketika suatu kata berarti begitu dalam
Dengan penghubung yang mendekatkan takdir
Engkau sebutan sesajakku menunjukmu menjalani benang ini
Aku terngiang dan terlena oleh senyuman cakrawala
Ingin rasanya mendekap, mencumbu dan bermanja
Bersama kerlipan bintang serta kerlingan rembulan
Selamanya hingga waktu membinasakan dirinya sendiri

Aku ingin terbang bersama sang dewi yang menggapai tanganku menariknya menuju indahnya pemandangan padang ilalang saat mentari terbenam ditanah surga.

Aku yang berdiri sendiri tanpa memandang dan dipandang
Terjatuh tersungkur dalam kasih sayang seorang rini tri kartika
Cerita indah ini dimulai 14 februari
Aku yang bertemu diriku yang baru

29 Agustus 2018 Oleh Virdos Kurniawan

Postingan Populer

Gambar

Bahasa Penyair