Awal Musim Sejuk
Umurku menginjak 22 tahun
ketika Rini Tri Kartika mendekapku
dengan hangatnya kasih dan sayang.
Memperkenalkanku kepada dunia yang belum pernah ku jejaki sebelumnya,
Bagaikan embun pagi yang tersenyum didedaunan,
air mata ini mudah timbul di pelupuk mata karena kebahagiaan.
Jiwaku telah terurai menjadi butiran berlian berkatnya,
saat warna pandangan mataku sekelam abu-abu.
Kini aku terjerat dan terseret
kedalam tajam sayu lembut matanya menidurkan setiap siapa yang bertatap.
Dia adalah wanita yang menjadi paku
diderasnya deru aliran puing-puing palung hati yang pecah,
tegap menatap dengan tajam segala penderitaanku.
Warna pandanganku telah lebih indah karenanya.
Kala itu senja...
saat kumelihat dan mulai mengenalnya.
Berawal dari selayang mata memandang didepan meja,
ku seakan mengenal paras ayunya.
Dengan senyumannya yang tersirat kepedihan dan kepasrahan,
bak telah ia kecap ribuan cambuk derita,
Senyumnya yang setenang air mengalir diperairan sawah
dihiasi ganggang-ganggangnya.
Ku terdiam dan bertanya-tanya
"wahai adinda siapa namamu? Telah kita nampak bertemu, dimana itu?"
Waktu menggerus hari dikala mimpi itu datang menghampiri
mimpi yang bagai sebuah gerbang menuju arah kebahagiaan
inilah takdir...
Saat takdir tak mempunyai akhiran itulah kesejatian sebuah kisah
Dikala semua tak dapat dijelaskan sebening gelas-gelas kaca
inilah takdir...
Ketika pecah dan hilang segala penderitaan bagai beling yang
terpecah dan terlempar terbang menghilang.
Rini tri kartika
Seorang yang dapat menyusup masuk kedalam pikiran,
Membuyarkan badai pekat kemelut sang pemikir.
Mengganggu dan membuatkan kasih sayang diselah-selahnya
Ia bagaikan cahaya terang yang menyeret pada keindahan dan ketenangan
Dari benih-benih kebahagiaan.
Lagi dan lagi dirinya terus menari dan membuai
Sang pembenci ini dalam kemelut pikiran yang kian membuas
Bagai badai menghempaskan awan-awan hitam pekat
Ia menyambut tanganku yang hina ini dengan senyum indahnya
Ketika ku bermalu dan tak pantas dihadapannya.
Kini ia membelaiku dengan kasih sayang yang tak terhitung dan tak terbendung
Walau ku hanya bisa menusuknya dengan segala kejujuran yang pedih.
Mba Rin...
Inginku, engkau mengetahui segalaku
Ku ingin kau sebagai akhir dimana ku mencintai dan menyayangi seorang hawa.
Ku tetap seadanya diriku dengan pedang-pedang kejujuranku
Walau engkau tetap berusaha bersenyum dengan tabahnya
Uluh-uluh mata itu merupakan dosa besar bagiku
Ingin ku jual jiwa dan ragaku demi menebus dosa-dosa ku
Singkaplah tabir kebusukkanku wahai mahadewiku.
Pernahkah engkau merasakan kedamaian dikala angin-angin semilir
Memberatkan jiwa untuk beranjak?
Kedamaian yang menidurkan kita dikala peluh membasahi leher indahmu?
Dikala tidur dalam belaian pujangga yang engkau sayang?
Inginku kita berjalan sedimikian indahnya,
Sedimikian tenangnya saat kita mengeratkan genggaman dikala tersenyum sayu
Bertukar pandang berjalan bersama.
Aku bermimpi, kita damai dan tenang dikala berjalan bersama,
Menikmati segala anugrah yang telah diberikan kepada kita
Oleh sang penguasa.
Wahai Tika ku
Engkaulah takdirku...
Engkaulah yang menarikku dari lumpur hidup nan hina itu
Engkaulah yang menyeretku dari kelagapku menyusuri hidup
Engkaulah mahadewi yang ku lihat dengan mata kepalaku sendiri
Menggenggam erat tanganku, tersenyum kepadaku, dan membelaiku penuh kasih
Terimakasih telah ada meresap kedalam hatiku.
Cinta kasih dan sayang
10 maret 2017 - Virdos Kurniawan
