Dewi Tiga Titisan

Dewi Tiga Titisan

Teh
Aku telah tenggelam dalam kelamnya asmara
Hingga bersimbah darah kesedihan
Tersekap oleh kebencian
Beraura dendam yang mendalam

"Wahai pujangga..."
Tatapan yang kosong

"Tak perlu kau mencinta"
Akan ku anggap ini omong kosong

"Patuhilah sang pemegang kodrat"
Sentak segenap tercengang

"Cinta akan tumbuh dengan sendirinya"
Terpaku berpikir tak kepalang

"Maka tak perlu lagi engkau menderita"

Sungguh...
kebenaran yang bahkan tak terakal
pembuktian dengan logika dangkal
banyak sekali pertanyaan
yang bahkan tidak sama sekali untuk diajukan

Teh...
Aku berduka
Atas segala luka

Aku yang berdiri disini hanyalah si cengeng
Yang menangis dengan tumpukkan hidangan dihadapannya
Sedang ada seseorang menangis keringat
Hanya untuk berjuang hidup.

Ini tak lagi perasaan
Semua ini realitas
Maka tak ada lagi yang perlu disesalkan
tak ada lagi yang perlu ditangiskan

Wahai dewi dengan tiga titisannya
Aku telah mendengar hati dan katamu

Kan ku hidup dalam setiap alunan nada-nada
Angin-angin kemarau
Berpeluhkan keringat
Dan mengingat semua kata-katamu

Kan ku mati dalam segala penderitaan hidup
Disaat nafas terakhir keadaanku dalam perjuangan hidup
Disaat itulah aku kan berkata
"aku bersyukur telah hidup didunia ini"


to the honorable Riskaningsih
lovingly from
Virdos K 10-november-2017

Postingan Populer

Gambar

Bahasa Penyair