Antagonis Disetiap Cerita



Dulu...
Saat ku menangis karena tersandung
Watak itu sangat ku benci
Watak yang pasti akan kalah
Dan tak akan pernah
Mengecup kebahagiaan sejati
Hingga berubahlah saat ini...
Akulah pemeluk watak itu
Erat terkunci tak kan lepas
Dan ku menangis entah karena apa
Apa itu jiwa?
Apa itu raga?
Jiwa inilah yang mengutuk
Raga inilah yang mempecundangi
Sosok cerah tapi suram
Wujud rupawan tapi nista

Siapa mereka?
Mereka itu apa?
Mereka adalah penjilat dosa-dosa
Yang berserakan bak ludah.
Mereka melakukannya,
Saat mereka
Dengan arogan meludah
Dan dengan munafik menjilatinya lagi
Berteriaklah mereka kagum
Dengan bahasa tubuh
Jelas terlihat makna
"Enak dan nikmat"

Kanan dan kiri
Depan dan belakang
Atas dan bawah
Kenapa tidak kusebut segala arah?
Ya,
Mereka datang menjejali ku
Kebencian dan penderitaan
Hingga sayu mata ini setengah kelopak
Kantung berkantung hitam mata ini
Petir-petir merah menyeruak bola mata ini
Tiada harapan...
Oh aku ingat...
Harapan hanyalah sampah kenyataan!
Jangan pernah berkata bahwa berharap
Harapan hanya untuk saat
Asa yang binasa

Semua merawatku bagai tanaman
Hingga buahnya tumbuh
Mereka memetiknya dan tersenyum
Maka kebahagiaan itu datang
Merangkul mereka dengan kelegaan

Tapi
Akulah tanaman beracun
Setelah mereka semua tahu
Aku tidak dibutuhkan dan diabaikan
Hingga ada yang menyadarinya
Tanaman beracun bisa menjadi obat

Disaat itulah aku merasa diinjak-injak dunia
Saat aku menginjakkan kaki di dunia.

Brengsek-nya...

Hai setiap kalian yang berkeraguan
Yang menggembor-gemborkan.
Berjalan tertunduk sebagai lakon
Dongakkan wajah kalian!
Lihat ke atas tebing jiwa
Sebuah gerhana itu menggelapkan dunia
Menghadang sumber cahaya
Akulah bulan gerhana itu
Yang bercahaya karena disinari
Dan mempunyai dua sisi
Terang dan gelap.
aku tak sebaik belaian angin senja
aku tak seindah kelopak mawar
aku tak untuk kalian.


Suatu saat mereka berbangga atas jeratan
Sehelai benang merah sebagai jalinan
Pada kenyataannya sehelai benang mudah sekali terputus
Mirip sekali dengan segala benang merah
Yang menjalin setiap manusia,
Mudah sekali putus
Begitu menyedihkannya mereka terus membanggakannya
Mudah saja untuk menghancurkan dan meremukkannya

Wahai alam wahai tuhan
Penyendiri bukanlah pendosa
Karena musuh disetiap sisi
Dan Lakon tak pernah ada
Di dunia kecil ini
Seorang antagonis berada

 Virdos - 29 April 2017

Postingan Populer

Gambar

Bahasa Penyair