Sipat Hitam

Sipat Hitam

Jumpaan pagi hari itu...
Mengingatkanku saat kau
Tersenyum, memanggil dan meraih tangan,
Untuk pertama kalinya
Saat berbarengan menapaki setapak menuju puncak
Sosok yang baru ku kenal
Yang menggemparkan irama indah cadas
Mengalunkan dentuman jejak rasa dihati.

Kian lama ku tak berjumpa...
Kabar angin berkata
Kau mencariku dalam kuburan perasaan.
Mencariku dalam sesaknya nafas-nafas.
Hingga pergi ke tempat pertapaanmu
Menyeruput air debu coklat
Dan memuntahkan pesan dibenak yang berontak.
Sampai-sampai gusar dan khawatir
Bahwa ku tak berpikir.

Sungguh megah dirimu
Dengan apa adanya dirimu
Iramamu menidurkanku dari peliknya dunia
Suara antagonis yang telah lama kucari
Disetiap selipan nada-nada

Ingin rasanya...
Bertatap dan bercakap
Apa rasa itu hanya merasukimu...?
Maka pergilah,
Tiada yang sanggup menghidupkanku
Dari kematian yang tak merenggut nyawaku
Saat rasa hanya merasuki.
Atau
Rasamu adalah dirimu sendiri...?
Maka hidupkanlah
Dan bukalah sekuat tenaga
Hujanilah ladang arang ilalang itu
Ilhamilah dengan perasaan sejati

Sungguh ku tak lagi berperasaan
Akulah makhluk yang membusuk
Yang kau beri indahnya tatapan sipat hitam itu
Hingga suatu saat kebenaran itu datang,
Mungkinkah kau tak kan mencariku lagi?

Saat itu...
Akulah pemberontak itu
Yang selalu kau panggil dari kejauhan setapak itu
Akulah pembenci itu
Yang selalu kau senyumi di peristirahatan
Akulah psikosis itu
Yang selalu kau raih genggamannya.

Ketahuilah misteriku...
Wahai kau sipat hitam.

Virdos - 29 Desember 2016

Postingan Populer

Gambar

Bahasa Penyair