Terik Setelah Rintik
Engkau memaksaku untuk menikmati kelamnya fur elise
Engkau menghukumku dengan jerat kepedihan
Hingga layu ku tak berdaya
Tak indah karyaku penuh dengan kegelapan
Engkau bilang diam adalah emas
Tapi untuk apa emas dalam diammu itu?
Bukankah ada yang lebih mulia dari emas?
Aku telah menterjemahkan bahasa diam mu
Tak baik ku membiarkanmu larut dan tenggelam dalam kesendirian
Tak baik pula engkau menangis dalam diam
Kesendirian menenggelamkanmu di akhir kehidupan
Tak akan ada yang tahu jika engkau terus diam
Teriak dan menjeritlah
Saat engkau merasakan apa yang tak seharusnya,
Tak akan ada yang tahu jika hanya diam
Aku pun tersesat butuh engkau tuk menuntunku.
Tak ingin kita berakhir teragis dalam kepedihan
Karena ku sayang aku terus mengemis
Telah sebulan ku menjalani nya
Kan terasa berpuluh-puluh tahun bekasnya.
Tak ingin ku menjadi seperti dulu
Tak mau ku kembali ke masa-masa itu
Sudah cukup masa itu,
Kini aku kuat karena engkau.
Kuat-kuatlah sang dewiku
Walau badai mengguncangkan, merestaskan, menipiskan keyakinan kita
Kuat-kuatlah aku akan menurut
Aku si buas yang hanya tunduk pada dewiku
Jangan lagi engkau menangis dikesendirianmu
Luapkanlah perasaanmu, suarakan isi hatimu
Tunjukkanlah jalan itu
Dimana kita berakhir bahagia hingga binasa
Dibalik rintik hujan ini...
Kita kembali menguatkan diri
Setelah badai kelam menyapu
Memporak-porandakan hati ini
Aku sayang engkau wanitaku
Diselah-selah jari manismu
Ku memohon sepenuh hati
Menitikkan keinginan tuk menjaga hati.
Virdos .K - 1 januari 2019
Untuk mahadewi ku
Rini Tri Kartika.
23 tahun sudah engkau semakin menua, dikala ku terus menunggu saat kita bersama disurga.
Engkau menghukumku dengan jerat kepedihan
Hingga layu ku tak berdaya
Tak indah karyaku penuh dengan kegelapan
Engkau bilang diam adalah emas
Tapi untuk apa emas dalam diammu itu?
Bukankah ada yang lebih mulia dari emas?
Aku telah menterjemahkan bahasa diam mu
Tak baik ku membiarkanmu larut dan tenggelam dalam kesendirian
Tak baik pula engkau menangis dalam diam
Kesendirian menenggelamkanmu di akhir kehidupan
Tak akan ada yang tahu jika engkau terus diam
Teriak dan menjeritlah
Saat engkau merasakan apa yang tak seharusnya,
Tak akan ada yang tahu jika hanya diam
Aku pun tersesat butuh engkau tuk menuntunku.
Tak ingin kita berakhir teragis dalam kepedihan
Karena ku sayang aku terus mengemis
Telah sebulan ku menjalani nya
Kan terasa berpuluh-puluh tahun bekasnya.
Tak ingin ku menjadi seperti dulu
Tak mau ku kembali ke masa-masa itu
Sudah cukup masa itu,
Kini aku kuat karena engkau.
Kuat-kuatlah sang dewiku
Walau badai mengguncangkan, merestaskan, menipiskan keyakinan kita
Kuat-kuatlah aku akan menurut
Aku si buas yang hanya tunduk pada dewiku
Jangan lagi engkau menangis dikesendirianmu
Luapkanlah perasaanmu, suarakan isi hatimu
Tunjukkanlah jalan itu
Dimana kita berakhir bahagia hingga binasa
Dibalik rintik hujan ini...
Kita kembali menguatkan diri
Setelah badai kelam menyapu
Memporak-porandakan hati ini
Aku sayang engkau wanitaku
Diselah-selah jari manismu
Ku memohon sepenuh hati
Menitikkan keinginan tuk menjaga hati.
Virdos .K - 1 januari 2019
Untuk mahadewi ku
Rini Tri Kartika.
23 tahun sudah engkau semakin menua, dikala ku terus menunggu saat kita bersama disurga.
