Putihku

Setelah sekian lama...
Jariku dapat menari lagi diatas
Kanvas derita yang harusnya kelam
Aku kembali
Wahai alam aku kembali
Mengayunkan jiwa yang tercanun diam
Menari berseri ditengah kalutnya dunia

Bismillah...

Putihku
Tak ingin ku nodai sejatinya
Cinta ini yang susah payah kupersembahkan
Kepada tuhanku yang menghidupkanku
Masih kupandang kuperhatikan
Gelagat bahasanya menyampaikan pesan
Aku termenung dalam belaian indah rembulan
Dimalam yang penuh bintang...

Pagi itu aku masih ingat
Bagai baru sekejap mata tertutup
Kenangan tersingkap masih teringat
Jelas raut wajahnya bingung
Berderak mendekat kepadaku

Cuap sejuk kami tumpahkan dalam
Setapak jalan yang dihiasi deru air terjun
Bunga bermekaran dan lebah menari indah
Menggiring kami menjalin satu ikatan...
Teman.

Sipat hitam itu kembali bagai gagak
Hinggap dan berteriak kepedihan.
Lebih anggun dan indah
Seperti...
Ia bukan lagi gagak, ia bagai merak
Yang mengibaskan bulu indahnya
Terlena, tercengang dan kucoba diam

aku ragu indahnya kisah fiksi kan terjadi padaku
Bagai altair dan vega yang terpisah
Dan saling bertemu dalam dekapan rindu.
Tercium bagiku bau penolakan
Bau ketidak-pedulian yang begitu menyengat
Yang menghempasku jauh

Aku bukan aku yang dulu
Kini ku bisa merasakan hangatnya
Kasih sayang alam yang terus berseri
Sedang kita terus menghancurkan
Gambaran manis serinya.
Serinya sang alam mirip miliknya
Yang kini menggerayangi pikiran
Hati dan lisan

Telah ku jejaki diri ini
Jauh hingga sepi
Dalam sepi ku berpasrah
Kepada tuhanku aku berserah

Ya itu salah ku...
Kala sang dewi yang tak mampu menanggung
Ku paksa untuk menanggung
Itu dosaku yang tak terlupa
Indah yang menusuk
Pelajaran yang tak dapat di beli
Dengan tumpukan emas
Melainkan mengorbankan hati
Adalah harga mati

Ku berusaha tak memandang
Berusaha tak peduli
Karena ku terlalu petang
Mengeja huruf didalam hati

Malam ini terang bulan
Menyambut bintang-bintang
Yang saling bersahut satu dengan yang lain
Memelukku dalam dekapan sunyi
Malam ini ramai di temani
Berbagai macam lelembut
Menghantar perasaanku menuju
Tuhan yang benar ku cinta.

Inikah munajat?

Dalam diam kami berbincang
Seolah rangkaian kalimatnya
Menggunungkan harapan
Yang ku tau ia pun berpasrah
Yang ku tau ketika mengingatnya
Aku ingin terus bersamanya
Yang ku tau semua ini akan hancur
Bila benar bebauan itu.
Bukan ragu, bukan takut ataupun berani
Aku tak ingin jatuh ke dalam
Hal yang sama berkali-kali
Hatiku berhati-hati
Mengucap dan bertindak

Ketika ku lemas dan lemah karena
Rasa yang tak terjangkau pemikiran
Kusebut namaNya diselah nafasku
Ku pejamkan mata hingga melihat
Besarnya gundukan dosaku
Ini berbeda, jelas berbeda
Bukan seperti dahulu
Rasa ini lebih payau namun indah
Sulit di terka bak misteri
Mendengar dan melihatpun
Semua terurai bagai
Delusi tunagrahita
Waktu bagai terhenti terpecah belah

Bismillah...
Jika yang ada itu bukan,
Maka tiadakan
Tengokkanlah pandanganku
Pada jalan lurus yang engkau gariskan
Berikan aku kekuatanMu
Lapangkanlah dadaku
Jangan Engkau cabut imanku
Dari nafas menjadi hembus
Dari hembus menderu menjadi angin
Angin yang menghempasku
Kedalam alamNya


Tak dapat kulupakan yang lalu
Tapi ku dapat tak memperdulikannya
Aku pandai menutup ingatan
Yang menusuk ke relung hati

Aku pandai juga
Menyelam kedalam cahaya
Terbang menuju sinar kegelapan
Kembali kepada hakikat manusia
Tenang aku diam disini
Biarkan kehendakNya
Yang menggerakkanku

Semua yang berjiwa akan merasakan mati
Indahkah jiwamu saat ini?

Virdos - 22 September 2019

Postingan Populer

Gambar

Bahasa Penyair