Cebur Sumur
Cebur Sumur
Pepatah filsuf bersuah
"Kebenaran yang kita tidak tahu apa-apa, karena kebenaran ada di dalam sumur"
Kebenaran pun masih belum pasti ketika kulihat kedalam sumur
Walau ku ceburkan diri kedalam sumur, semua hanya akan berakhir
Tanpa mengetahui kebenaran sejati
Jika mengingat sumur teringatku akan derita lama
Yang hampir menyeretku kejurang kematian
Ingatlah setiap lekuk bulu halus wajahmu
Aku mengejanya dan membacanya
Manusia hidup dalam kebohongan
Sangat mengerikan jika digambarkan
Kebohongan itu bagai parasit yang perlahan membunuhnya
Bagai topeng yang dipaku kan ke wajah
Semakin tebal topeng itu maka paku yang ditanamkan semakin menggerumuti wajahnya
Tekadang manusia terlalu takut oleh sangkarnya sendiri
Tak mampulah untuk membentangkan sayap dan terbang
Kebenaran
Untuk keluar dari sumur butuh banyak perjuangan
Logika tak akan berpengaruh pada perjuangannya
Karena kendali ego yang membolak-balikan
Kebenaran dan keinginan kian bias menyatu
Hanya dapat menuduh dan menyalahkan
Menyembunyikan dan mengumpat
Walau yang di dalam sumur itu telah bersuara
Engkau lihat bunga yang menyala-nyala itu?
Bukan bunganya, itu kunang-kunang
Bukan juga, Itu hanya lampu senja dirumah milik pak tani
Aku ingin melihatnya...
dan
Engkau mati terkena ranjau saat ingin memastikannya
Terlalu banyak kata mati dalam secarik kertas ini
Sederhana, aku hanya ingin mati
Kembali ku kecap rasa keputus-asaan
Inginku beristirahat dan menghentikan nafas
Telah lelah ku entah dengan insan, alam atau sistem ketuhanan
Jiwa ku ingin terbang tinggi menghela debu-debu nirwana
Menyongsong indahnya mega-mega
Menyandarkan punggung pada awan-awan
Menghilangkan penat bersama bidadari-bidadari
Terkekeh geli kumengatakannya
Ku tahu tak sesuci itu jiwaku untuk berada dalam nikmat sejati
Setidaknya aku tak sekotor laku ku
Membiarkan pelataran pusara hidupku penuh debu dan sampah
Aku bisa melihat kujujuran dan kebenaran
Walau dibalik kabut tebal ataupun tutupan terrain
Bukan hal remeh namun sering diremehkan
Begitulah atmosfer disini bekerja
Semuanya tidak baik-baik saja
Apa yang kudengar kulihat kurasa oleh indraku
Hanyalah ilusi
Bukan tentang kesalahan dan kebenaran
Tapi tentang kejujuran dan kebohongan
Menyembunyikan sama halnya menelan gargantua
Seberapa kuat dinding tenggorokkanmu
Badanmu akan tetap terkoyak
Hati itu masih terlalu ranum untuk menyaksikan
Engkau tak akan mampu menggenggam kebenaran
Anggunlah, bijaksanalah dan merenunglah
Aku yang lelah hanya perlu beristirahat sejenak
Jiwa ku dalam keadaan ketidak-tahuan untuk berjalan
dan ku diam menutup mata dan menutup telinga
Selamat tidur
Seluruh makhluk sealam semesta
Semoga engkau damai dalam diam
Virdos - 26 September 2018
Pepatah filsuf bersuah
"Kebenaran yang kita tidak tahu apa-apa, karena kebenaran ada di dalam sumur"
Kebenaran pun masih belum pasti ketika kulihat kedalam sumur
Walau ku ceburkan diri kedalam sumur, semua hanya akan berakhir
Tanpa mengetahui kebenaran sejati
Jika mengingat sumur teringatku akan derita lama
Yang hampir menyeretku kejurang kematian
Ingatlah setiap lekuk bulu halus wajahmu
Aku mengejanya dan membacanya
Manusia hidup dalam kebohongan
Sangat mengerikan jika digambarkan
Kebohongan itu bagai parasit yang perlahan membunuhnya
Bagai topeng yang dipaku kan ke wajah
Semakin tebal topeng itu maka paku yang ditanamkan semakin menggerumuti wajahnya
Tekadang manusia terlalu takut oleh sangkarnya sendiri
Tak mampulah untuk membentangkan sayap dan terbang
Kebenaran
Untuk keluar dari sumur butuh banyak perjuangan
Logika tak akan berpengaruh pada perjuangannya
Karena kendali ego yang membolak-balikan
Kebenaran dan keinginan kian bias menyatu
Hanya dapat menuduh dan menyalahkan
Menyembunyikan dan mengumpat
Walau yang di dalam sumur itu telah bersuara
Engkau lihat bunga yang menyala-nyala itu?
Bukan bunganya, itu kunang-kunang
Bukan juga, Itu hanya lampu senja dirumah milik pak tani
Aku ingin melihatnya...
dan
Engkau mati terkena ranjau saat ingin memastikannya
Terlalu banyak kata mati dalam secarik kertas ini
Sederhana, aku hanya ingin mati
Kembali ku kecap rasa keputus-asaan
Inginku beristirahat dan menghentikan nafas
Telah lelah ku entah dengan insan, alam atau sistem ketuhanan
Jiwa ku ingin terbang tinggi menghela debu-debu nirwana
Menyongsong indahnya mega-mega
Menyandarkan punggung pada awan-awan
Menghilangkan penat bersama bidadari-bidadari
Terkekeh geli kumengatakannya
Ku tahu tak sesuci itu jiwaku untuk berada dalam nikmat sejati
Setidaknya aku tak sekotor laku ku
Membiarkan pelataran pusara hidupku penuh debu dan sampah
Aku bisa melihat kujujuran dan kebenaran
Walau dibalik kabut tebal ataupun tutupan terrain
Bukan hal remeh namun sering diremehkan
Begitulah atmosfer disini bekerja
Semuanya tidak baik-baik saja
Apa yang kudengar kulihat kurasa oleh indraku
Hanyalah ilusi
Bukan tentang kesalahan dan kebenaran
Tapi tentang kejujuran dan kebohongan
Menyembunyikan sama halnya menelan gargantua
Seberapa kuat dinding tenggorokkanmu
Badanmu akan tetap terkoyak
Hati itu masih terlalu ranum untuk menyaksikan
Engkau tak akan mampu menggenggam kebenaran
Anggunlah, bijaksanalah dan merenunglah
Aku yang lelah hanya perlu beristirahat sejenak
Jiwa ku dalam keadaan ketidak-tahuan untuk berjalan
dan ku diam menutup mata dan menutup telinga
Selamat tidur
Seluruh makhluk sealam semesta
Semoga engkau damai dalam diam
Virdos - 26 September 2018
