Arang Ilalang
Lidahku hanya ingin diam
Kernyit alisku hanya ingin tersenyum.
Benakku lelah,
Dihantam jutaan cambuk.
Jiwa ini hidup tertatih,
Walau mereka hanya tertawa melihatnya
Bahkan melindasnya dengan topeng busuknya.
Akulah senyum bohong itu
Diselah-selah gema tawa.
Tak akan menampakkan berapa banyak
busur panah yang menancap dipunggung.
Walau banyak yang tersayat pisau seujung jari
memelaskan diri meminta kasih.
Akulah pemimpi dengan segala mimpi yang diremukkan
Oleh seorang permaisuri raja.
Yang pandai bersenyum manis,
Pandai bertatakrama,
Serta pandai membelai ilalang.
Hingga terusiklah ilalang kering itu
Dengan disiramkannya minyak sang raja oleh permaisuri,
Lalu ia memercikkan bunga-bunga api
Dan membumi-hanguskannya.
Sekarang ladang itu menjadi gurun arang.
Arang ribuan daun ilalang
Sampai saat tiupan angin menerpanya
Daun getas itu terbang dan
Menggelapkan dunia dengan segala kesedihannya.
Andai arang ilalang itu sebilah pedang,
Apakah permaisuri akan mati?
Saat sebilah pedang itu
Menebaskan daun tajamnya
Hingga darah menjadi tinta pembalasan?
Dan perutnya pipihnya mengeluarkan pita-pita.
Gaun anggun itu bernoda merah
Desahan kematian muncul dirongga bibirnya.
Terbayang belalak matanya
Seakan tak percaya.
Walau kematiannya tak sehina budak nafsu.
Akulah sebilah pedang itu
Yang siap menuliskan kengerian
Menggoreskan jutaan derita.
Kuteriakan itu hingga kemudian
Kenyataan menamparku!
Akulah arang ilalang itu.
Hitam malang yang terbang.
Hanya diam yang damai
Saat orang melihat dan
Hancur saat digenggam.
Belum kering ku dari basah
Jiwa ini terperosok ke langit
Terhempas dan Terlempar.
Jatuhlah jiwa ini dari venus ke dalam matahari
Matahari gelap
Yang mengoyak segalanya
Tiada henti cakrawala merobek dan mencincangnya.
Aku bukan lagi mati.
Akulah kematian itu sendiri.
Jiwa kematian yang mengutuk keindahan yang dijanjikan.
Hihihi...
Mabuk derita dan siksa...
Sudah lama kutenggak.
Peduli iblis ku berkasih,
Lebih baik kuberhenti
Diam dan melihat.
Sungguh,
Tak berguna meratapi
Tuhan masih bangun.
Satu-satunya sesuatu yang bisa dipercaya.
Hanya beberapa pertanyaan yang menyambit sabarku.
Dimana tulang rusuk yang ia ganjilkan?
Tatapkanlah wajahku pada tulang itu.
Niscaya qolbu ini tak sehitam arang ilalang.
Jika saja tidak ada,
Redupkanlah hitamnya api neraka di fana-ku ini.
Jika kau lebih berkehendak...
Tuhan...
Aku berdoa,
Esok...
Aku memohon dengan ampun...
DERUKANLAH SUARA SANGKAKALA!
Hingga mereka lari dari keluarga,
Menyombongkan diri dengan kesibukkannya,
DAN BELAHLAH LANGIT-LANGIT ITU!
HUJANILAH TANAH INI DENGAN BINTANG-BINTANG!
LUAPKANLAH AIR LAUT ITU SAMPAI MENGIBAS DARATAN!
HINGGA MEREKA TERBIRIT-BIRIT
Tibakanlah hari pembalasan itu.
Kiamatkanlah dunia ini...
Virdos - 1 Desember 2016
Kernyit alisku hanya ingin tersenyum.
Benakku lelah,
Dihantam jutaan cambuk.
Jiwa ini hidup tertatih,
Walau mereka hanya tertawa melihatnya
Bahkan melindasnya dengan topeng busuknya.
Akulah senyum bohong itu
Diselah-selah gema tawa.
Tak akan menampakkan berapa banyak
busur panah yang menancap dipunggung.
Walau banyak yang tersayat pisau seujung jari
memelaskan diri meminta kasih.
Akulah pemimpi dengan segala mimpi yang diremukkan
Oleh seorang permaisuri raja.
Yang pandai bersenyum manis,
Pandai bertatakrama,
Serta pandai membelai ilalang.
Hingga terusiklah ilalang kering itu
Dengan disiramkannya minyak sang raja oleh permaisuri,
Lalu ia memercikkan bunga-bunga api
Dan membumi-hanguskannya.
Sekarang ladang itu menjadi gurun arang.
Arang ribuan daun ilalang
Sampai saat tiupan angin menerpanya
Daun getas itu terbang dan
Menggelapkan dunia dengan segala kesedihannya.
Andai arang ilalang itu sebilah pedang,
Apakah permaisuri akan mati?
Saat sebilah pedang itu
Menebaskan daun tajamnya
Hingga darah menjadi tinta pembalasan?
Dan perutnya pipihnya mengeluarkan pita-pita.
Gaun anggun itu bernoda merah
Desahan kematian muncul dirongga bibirnya.
Terbayang belalak matanya
Seakan tak percaya.
Walau kematiannya tak sehina budak nafsu.
Akulah sebilah pedang itu
Yang siap menuliskan kengerian
Menggoreskan jutaan derita.
Kuteriakan itu hingga kemudian
Kenyataan menamparku!
Akulah arang ilalang itu.
Hitam malang yang terbang.
Hanya diam yang damai
Saat orang melihat dan
Hancur saat digenggam.
Belum kering ku dari basah
Jiwa ini terperosok ke langit
Terhempas dan Terlempar.
Jatuhlah jiwa ini dari venus ke dalam matahari
Matahari gelap
Yang mengoyak segalanya
Tiada henti cakrawala merobek dan mencincangnya.
Aku bukan lagi mati.
Akulah kematian itu sendiri.
Jiwa kematian yang mengutuk keindahan yang dijanjikan.
Hihihi...
Mabuk derita dan siksa...
Sudah lama kutenggak.
Peduli iblis ku berkasih,
Lebih baik kuberhenti
Diam dan melihat.
Sungguh,
Tak berguna meratapi
Tuhan masih bangun.
Satu-satunya sesuatu yang bisa dipercaya.
Hanya beberapa pertanyaan yang menyambit sabarku.
Dimana tulang rusuk yang ia ganjilkan?
Tatapkanlah wajahku pada tulang itu.
Niscaya qolbu ini tak sehitam arang ilalang.
Jika saja tidak ada,
Redupkanlah hitamnya api neraka di fana-ku ini.
Jika kau lebih berkehendak...
Tuhan...
Aku berdoa,
Esok...
Aku memohon dengan ampun...
DERUKANLAH SUARA SANGKAKALA!
Hingga mereka lari dari keluarga,
Menyombongkan diri dengan kesibukkannya,
DAN BELAHLAH LANGIT-LANGIT ITU!
HUJANILAH TANAH INI DENGAN BINTANG-BINTANG!
LUAPKANLAH AIR LAUT ITU SAMPAI MENGIBAS DARATAN!
HINGGA MEREKA TERBIRIT-BIRIT
Tibakanlah hari pembalasan itu.
Kiamatkanlah dunia ini...
Virdos - 1 Desember 2016
