Gusaran Hampa

Angin kemarau di musim penghujan sudah terasa
Gemuruhnya membawa kan badai-badai kecil
Bagai hati ini terombang-ambing oleh sebuah rasa
Menunggu kabar kapan badai itu datang

Kisah kita baru menetas kemarin sore
Walau dirimu telah merangsek masuk ke kedalaman hati
Menyeruakkan asmara dan rasa-rasa
Menumbuhkan segala pandangan dan keingin-tahuan

Kartika...
Engkau berdalil inginnya engkau terbang tinggi
Bagai burung-burung yang bebas diluar sana

Aku memandangnya kala itu,
Kalimat yang mengandung segala harapan dan impian
Engkau kumandangkan dibalik senyum lembut dan indahmu

Jadilah burung itu
Tapi janganlah engkau menjadi kedasih
Yang terbang menjauh menitipkan pesan kematian
Jadilah burung itu
Tapi janganlah engkau menjadi gagak
Yang meninggalkan jejak kematian setelah kicaunya

Semalam, malam yang indah bukan?
Bagai badai kecil dalam samudera yang luas...
Engkau menatap bintang selama engkau terbang tinggi nan bebas
Inginku belai rambut indahmu dan berkata
Hidupku memang hidupku, hidupmu memang hidupmu
Tapi dengarlah kartika...
Jiwaku bukan hanya punyaku dan Jiwamu pun bukan hanya punyamu
Kian lama, raga ini perlahan berpindah tangan
Semakin dibiarkan, perasaan kemelut ini menjadi pertanyaan
Kemana engkau pergi?

Tak inginku berteriak dalam diam
Tak inginku membenci dalam mencinta
Tak inginku pudar dan nista dalam alunan indahnya kasih sayang
Ku berontak dalam ketiadaan.

Cambuklah aku dengan nada keras kejujuranmu
Penggal jiwa ku dengan slentingan pedasmu
Jangan kau kubur dalam-dalam dan memungkiri perasaan
Karena engkaulah satu-satunya sang dewi ku
Dengan segalanya yang telah kucurahkan kepadamu
Tolong Teriakkanlah keberadaanmu.

Karena...
Aku yang melihat dibalik kata-kata
Aku yang mendengar mata berbicara
Aku yang tak melihat dan tak mendengar mulut bersuara

Dibalik segala iya
Terdapat berjuta enggan dan sungkan

27 Maret 2018 - Virdos Kurniawan

Postingan Populer

Gambar

Bahasa Penyair