Si Gondrong
Terimakasih allah atas makanan ini
Bersyukurlah ku dengan hikmat atas makanan
Yang tuhanku berikan.
Sedang yang lain hanya ber-ria
Dengan membuang, membenci dan mengutuk.
Mereka hanya tertawa melihatku dan berkata
"Lihatlah si gondrong makan dengan lahap!"
Tidakkah mereka tahu
Betapa busuknya bau
Yang dikeluarkan dari mulut-mulut rusaknya itu?
Akulah si ambien gelap itu
Yang mencetuskan ketakutan
Disetiap hati yang kotor,
Terinjak harga diri,
Dilindas kesombongan,
Digantung tali kemalasan,
Terbang ditiup hawa nafsu,
Berbaju ketamakkan,
Digandeng kerakusan
Dan Terseret keirian
Berdosakah mereka yang bergumul kengerian?
Berdosakah mereka si pemberi peringatan?
Gondrong ini hanyalah topeng
Untuk menutupi
betapa mengerikannya peringatan itu
Tak akan terlihat secuilpun kebahagiaan.
Tertawalah kau orang yang tak mengerti
Kau hidup di zaman
ketika "bersetubuh" berarti kecupan kening
Ketika perang hanyalah permainan
Ketika derita hanyalah luka gores dilutut
Ketika "Selamat tinggal" hanya berarti "sampai besok"
Ketika kau tak perlu menunggu untuk dewasa
Sebenarnya kau telah diperkosa hidupmu sendiri
Kekejaman itu bukan kau hindari
Tapi kau nikmati dengan ketidak-sadaran
Sedang kau berdalih dengan munafiknya
Seakan kau hidup sekarang
Tapi ruh mu melayang entah dimana
Dan memikirkan masa depan
Seakan masih ada hari esok.
Akulah si peringatan itu
Yang memecut mereka
Dengan realitasnya
Tawa itu berarti tangisan
Dan tangisan itu berarti kebahagiaan
Kalian bahkan lebih mirip
Anak kecil yang membawa jaring
Yang harusnya menangkap ilmu-ilmu dunia
Tapi tak bergerak setelah tinggi
Memanjat tebing jurang akhirat.
Bukankah ini hanya lelucon
Yang selalu ditertawakan orang-orang?
Ketika hanya satu ego yang merasuki
Kan ku tinggalkan semuanya
Dan menyelamatkan diriku sendiri
Binasalah dengan mengenaskan
Virdos - 25 Desember 2016
Bersyukurlah ku dengan hikmat atas makanan
Yang tuhanku berikan.
Sedang yang lain hanya ber-ria
Dengan membuang, membenci dan mengutuk.
Mereka hanya tertawa melihatku dan berkata
"Lihatlah si gondrong makan dengan lahap!"
Tidakkah mereka tahu
Betapa busuknya bau
Yang dikeluarkan dari mulut-mulut rusaknya itu?
Akulah si ambien gelap itu
Yang mencetuskan ketakutan
Disetiap hati yang kotor,
Terinjak harga diri,
Dilindas kesombongan,
Digantung tali kemalasan,
Terbang ditiup hawa nafsu,
Berbaju ketamakkan,
Digandeng kerakusan
Dan Terseret keirian
Berdosakah mereka yang bergumul kengerian?
Berdosakah mereka si pemberi peringatan?
Gondrong ini hanyalah topeng
Untuk menutupi
betapa mengerikannya peringatan itu
Tak akan terlihat secuilpun kebahagiaan.
Tertawalah kau orang yang tak mengerti
Kau hidup di zaman
ketika "bersetubuh" berarti kecupan kening
Ketika perang hanyalah permainan
Ketika derita hanyalah luka gores dilutut
Ketika "Selamat tinggal" hanya berarti "sampai besok"
Ketika kau tak perlu menunggu untuk dewasa
Sebenarnya kau telah diperkosa hidupmu sendiri
Kekejaman itu bukan kau hindari
Tapi kau nikmati dengan ketidak-sadaran
Sedang kau berdalih dengan munafiknya
Seakan kau hidup sekarang
Tapi ruh mu melayang entah dimana
Dan memikirkan masa depan
Seakan masih ada hari esok.
Akulah si peringatan itu
Yang memecut mereka
Dengan realitasnya
Tawa itu berarti tangisan
Dan tangisan itu berarti kebahagiaan
Kalian bahkan lebih mirip
Anak kecil yang membawa jaring
Yang harusnya menangkap ilmu-ilmu dunia
Tapi tak bergerak setelah tinggi
Memanjat tebing jurang akhirat.
Bukankah ini hanya lelucon
Yang selalu ditertawakan orang-orang?
Ketika hanya satu ego yang merasuki
Kan ku tinggalkan semuanya
Dan menyelamatkan diriku sendiri
Binasalah dengan mengenaskan
Virdos - 25 Desember 2016
