Berontak Berantak
Senja dimana nafas terhela setengah mati berjalan
Menyisir bebatuan yang siap menimpa kedamaian
Kini kedamaian itu menggeliat sakit tertimpa meteor
Memporak-porandakan air tenang kejiwaan
Berpaut tak bertali meteor itu menggelinding
Ditumpaskan air tenang itu hingga berteriak binasa
Aku yang dalam diam membelenggu teriakkan jiwa
Terus tersenyum dihadapnya atas nama mahkluk tuhan
Alam berbisik untuk terus tabah
Seakan ini ujianku membangun istana yang megah
Takdir seakan bersuah atas jalanku
Tapi aku tak terkapar meregangkan keputus-asaan
Ku cabik diriku sendiri agar ku tak merasa sakit
Kubangkitkan iblis kecilku agar melupakan selayang cerita
Tak berguna semuanya hingga tersadarku pada keadaan sulit
Dimana ketabahan menjadi obatnya
Teringatlah ku pada kembangku
Sumber kekuatan jiwaku
Berontak berantak ingin ku rapi
Layaknya dulu dikala sepi
Meteor ini bukanlah batu yang jatuh dari lereng
Bukanlah batu yang biasa dengan nyaman kutrima.
Agaknya ia lebih istimewa dilihat dari pandangan meleng
Dari pada batu yang terus memupuk untuk terus berdoa.
Tak lupa ku selalu berterimakasih kembangku...
Berkat dirimu kini ku berdiri disini dengan nyawa ini
Dengan jiwa ini yang selalu kau hembuskan angin kehidupan
Untuk ini ku bertabah atas timpaan itu
Dimana mata memejam tak sudi
Memandang yang ku tak peduli
Budaya terusenggerus jiwa ini
Menuhankan sang penggepuk kedamaian hati
Tiada kata swatantra dikala engkau tragis
Tiada kata mandiri dikala engkau menggelayuti ranting yang rapuh
Tiada kata bebas dikala engkau tak dapat terbang
Tiada kata merdeka dikala engkau dijajah
Dunia ini berputar oleh irama takdir
Seadanya dan tiada kesengajaan
Aku tersadar
Akan kerasnya meteor itu
Hanya berguna untuk menghancurkan
Tak peduli apa yang dihancurkan
Badan ku kini busuk layaknya sampah
Rambutku kumal dihinggapi lalat-lalat
Gigiku menguning nafasku bau tak sedap
Karena jiwaku berperang atas kedamaian
Perlahan pecah menjadi beling-beling kecil
Pagar ku terlindas kebaikan
Dengan wibawa senyuman ku berdalih kengerian
Agar tersadar aku ingin berteriak
Apa yang tak bisa ku teriakkan
Ku coba terus untuk kuat dan lepas
Ini semua bukan malapetaka
Hanya ujian yang terus bertamu
Pada jiwa dan raga yang hidup
Menjalani kehidupan ini
Terimakasih hidup
Andai ku bisa membalasmu
Kan ku bunuh engkau
Bersama ruang dan waktu
Virdos K - 21 Oktober 2018
Menyisir bebatuan yang siap menimpa kedamaian
Kini kedamaian itu menggeliat sakit tertimpa meteor
Memporak-porandakan air tenang kejiwaan
Berpaut tak bertali meteor itu menggelinding
Ditumpaskan air tenang itu hingga berteriak binasa
Aku yang dalam diam membelenggu teriakkan jiwa
Terus tersenyum dihadapnya atas nama mahkluk tuhan
Alam berbisik untuk terus tabah
Seakan ini ujianku membangun istana yang megah
Takdir seakan bersuah atas jalanku
Tapi aku tak terkapar meregangkan keputus-asaan
Ku cabik diriku sendiri agar ku tak merasa sakit
Kubangkitkan iblis kecilku agar melupakan selayang cerita
Tak berguna semuanya hingga tersadarku pada keadaan sulit
Dimana ketabahan menjadi obatnya
Teringatlah ku pada kembangku
Sumber kekuatan jiwaku
Berontak berantak ingin ku rapi
Layaknya dulu dikala sepi
Meteor ini bukanlah batu yang jatuh dari lereng
Bukanlah batu yang biasa dengan nyaman kutrima.
Agaknya ia lebih istimewa dilihat dari pandangan meleng
Dari pada batu yang terus memupuk untuk terus berdoa.
Tak lupa ku selalu berterimakasih kembangku...
Berkat dirimu kini ku berdiri disini dengan nyawa ini
Dengan jiwa ini yang selalu kau hembuskan angin kehidupan
Untuk ini ku bertabah atas timpaan itu
Dimana mata memejam tak sudi
Memandang yang ku tak peduli
Budaya terusenggerus jiwa ini
Menuhankan sang penggepuk kedamaian hati
Tiada kata swatantra dikala engkau tragis
Tiada kata mandiri dikala engkau menggelayuti ranting yang rapuh
Tiada kata bebas dikala engkau tak dapat terbang
Tiada kata merdeka dikala engkau dijajah
Dunia ini berputar oleh irama takdir
Seadanya dan tiada kesengajaan
Aku tersadar
Akan kerasnya meteor itu
Hanya berguna untuk menghancurkan
Tak peduli apa yang dihancurkan
Badan ku kini busuk layaknya sampah
Rambutku kumal dihinggapi lalat-lalat
Gigiku menguning nafasku bau tak sedap
Karena jiwaku berperang atas kedamaian
Perlahan pecah menjadi beling-beling kecil
Pagar ku terlindas kebaikan
Dengan wibawa senyuman ku berdalih kengerian
Agar tersadar aku ingin berteriak
Apa yang tak bisa ku teriakkan
Ku coba terus untuk kuat dan lepas
Ini semua bukan malapetaka
Hanya ujian yang terus bertamu
Pada jiwa dan raga yang hidup
Menjalani kehidupan ini
Terimakasih hidup
Andai ku bisa membalasmu
Kan ku bunuh engkau
Bersama ruang dan waktu
Virdos K - 21 Oktober 2018
