Sang Mentari
Sesisih tenaga hilangkan hasrat
Tuk melanjutkan realita,
Terbaringlah kaku
Dari jiwa yang goyah.
Panggilan-panggilan itu semakin keras
Menggebu bak api yang membakar!
"Datanglah jiwa yang rusak,
Kan ku sambut kau
Dengan keindahan bulatan cahaya itu
Cahaya yang menerangkan siangmu
Datanglah kau dipuncak-ku,
Di seluruh penjuru-penjuruku."
Dari denging menjadi dengung,
Dari dengung menjadi dentang,
Dari dentang, darah ini mendidih menghampirinya.
Ribuan nada-nada indah dari kembang-kembang
Yang bermekaran maupun beterbangan,
Pandangan ini menghadap pada ratusan ruh-ruh
Yang tersemat pada jasad-jasad cantik itu.
Terrain ini bukan surga
Yang memanjakan
bukan pula neraka
Yang menyengsarakan
Terrain ini bak manusia
Yang lebih buruk dan lebih baik
Berjalanlahku dengan penuh kepahaman
Kapan ku berhenti
Kapan ku menatap kebawah
Kapan ku menikmatinya
Terlelaplahku dalam belaian alam
Deru-deru angin itu satir membuat pulas
Lembut dan semilir
Sentakku disaat dini
Menyaksikan pancaran merahnya mega-mega fajar
Wahai alam
Kuberlari padamu membuang perkaraku
Hingga kau suguhkan fajar itu...
Terburu ku menghampiri puncakmu itu
Indah yang menghapus luka
Canangkan segala ketentraman
Pudarkan kelamnya jiwa
Terangkan gelapnya hati
Mentarimu bangun merobek kebutaan
Gunung-gunung itu berbiru senyum padaku
Menghangatkan bangkai ini
Memulihkannya dari sayat-sayat cakar
Awan-awan itu menari melambaikan putihnya
Menarik jiwa ini ke tempatnya
Daun berseri embun
Membasahkan kalbu dengan murninya
Burung berkicau lantang
Menggencatkan perih dengan hentakkannya
Wahai alam...
Terimakasih
Sang mentari menghidupkanku
Dari mati yang tak merenggut nyawaku.
Begitu indah
Menatapnya di puncak-puncakmu
Sekarang ku terlahir kembali
Kan ku tapaki hidup baruku
Dengan penuh hikmat.
Wahai alam wahai tuhan...
Terimakasih
Virdos - 14 Desember 2016
Tuk melanjutkan realita,
Terbaringlah kaku
Dari jiwa yang goyah.
Panggilan-panggilan itu semakin keras
Menggebu bak api yang membakar!
"Datanglah jiwa yang rusak,
Kan ku sambut kau
Dengan keindahan bulatan cahaya itu
Cahaya yang menerangkan siangmu
Datanglah kau dipuncak-ku,
Di seluruh penjuru-penjuruku."
Dari denging menjadi dengung,
Dari dengung menjadi dentang,
Dari dentang, darah ini mendidih menghampirinya.
Ribuan nada-nada indah dari kembang-kembang
Yang bermekaran maupun beterbangan,
Pandangan ini menghadap pada ratusan ruh-ruh
Yang tersemat pada jasad-jasad cantik itu.
Terrain ini bukan surga
Yang memanjakan
bukan pula neraka
Yang menyengsarakan
Terrain ini bak manusia
Yang lebih buruk dan lebih baik
Berjalanlahku dengan penuh kepahaman
Kapan ku berhenti
Kapan ku menatap kebawah
Kapan ku menikmatinya
Terlelaplahku dalam belaian alam
Deru-deru angin itu satir membuat pulas
Lembut dan semilir
Sentakku disaat dini
Menyaksikan pancaran merahnya mega-mega fajar
Wahai alam
Kuberlari padamu membuang perkaraku
Hingga kau suguhkan fajar itu...
Terburu ku menghampiri puncakmu itu
Indah yang menghapus luka
Canangkan segala ketentraman
Pudarkan kelamnya jiwa
Terangkan gelapnya hati
Mentarimu bangun merobek kebutaan
Gunung-gunung itu berbiru senyum padaku
Menghangatkan bangkai ini
Memulihkannya dari sayat-sayat cakar
Awan-awan itu menari melambaikan putihnya
Menarik jiwa ini ke tempatnya
Daun berseri embun
Membasahkan kalbu dengan murninya
Burung berkicau lantang
Menggencatkan perih dengan hentakkannya
Wahai alam...
Terimakasih
Sang mentari menghidupkanku
Dari mati yang tak merenggut nyawaku.
Begitu indah
Menatapnya di puncak-puncakmu
Sekarang ku terlahir kembali
Kan ku tapaki hidup baruku
Dengan penuh hikmat.
Wahai alam wahai tuhan...
Terimakasih
Virdos - 14 Desember 2016
