Kerudung Sundal


Berjalanlah...
Ketika percikan sayap-sayap peri
Bersinar bagai kunang-kunang
Menyinari setiap sudut tubuhmu
Yang indah dengan lekuknya.

Berhentilah...
Ketika kobaran-kobaran api hitam
Bergelap-gulita bagai awan mendung
Menggelapkan seluruh sikapmu
Yang busuk bagai bangkai terurai.

Tapi kau berhenti
Ketika molek tubuhmu
Menjadi sebuah barang
Dan kau berjalan
Ketika gelap sikapmu
Merundung nafsu.

Aku menemukan secercah kebenaran
Ketika syair-syair bujang tua itu
Berkumandang di kepalaku.
Sungguh cinta sejati hanyalah cinta
Antara kau dan tuhanmu.
Ketika aku menyusurinya
Dengan tertatih
Kebenaran itu semakin menjadi,
Manusia hanyalah makhluk lemah
Yang terus saja mengharap
Sebuah hubungan yang abadi
Ketika raganya hanyalah fana
Bujang tua itu berkata
"betapapun tinggi jiwa mereka,
Mereka tak kan pernah berbahagia"

Wahai engkau bidadari bumi
Mengapa kau bermain-main
Dengan sesuatu yang dapat membunuh itu?
Seberapa menderitanya dirimu
Mengikuti arus kuat zaman kebodohan ini?
Sekuat apa ego mu
Memaksakan semua ini?

Kerudung lusuh itu
Terus menutup sikapmu
Bertengger bagai cermin
Yang memancarkan kebaikan
Sebuah fenomena sosial
Yang sungguh dan
Teramat sangat memuakkan

Wahai sundal!
Jika tiada pilihan bagimu untuk
Menuruni tebing curam dan
Terjun bebas ke dalam lembah itu
Bukankah seharusnya kau terbang tinggi
Mencari tebing yang menjulang
Dan menginjaknya dengan
kasih dan sayangmu.

Masih banyak tebing-tebing
Yang sekuat tiang-tiang langit
Masih banyak dari mereka
Yang mengenakkan jujur
Sebagai pakaian
Masih banyak dari mereka
Yang membelaimu penuh
Dengan kasih dan sayang

Akan lebih baik jika seperti itu,
Ini bukanlah sebuah harapan
Ini hanyalah silat lidah
Dari segumpal omong kosong
Yang tak kan kau pahami.
Tapi omong kosong itu bagai cambuk
Yang memecut meninggalkan bekas
Karena hatimu hidup dan tak mati.

Ingatlah wahai sundal
Pengkhianatan itu membunuh
Bagai kerasnya bilah pedang tercelup air
Mereka tetap berkarat.
Engkau satu-satunya makhluk
Yang mempunyai kehangatan abadi
Membebaskan dunia dari dingin
Yang membunuh perlahan
Itu bukanlah senjata,
Itu adalah harta,
Pakailah itu sebagai hiasan
Gambaran manis dan lemah
Karena engkaulah bidadari bumi.

Kesundalan ini sudah jauh membusuk
Membudaya menjadi penyakit tak terlihat
Semakin tenggelam penyakit ini
Terbalik menjulang sebagai budaya,
Lihatlah sekelilingmu wahai sundal
Dunia ini lebih luas dari lebar matamu.

Virdos - 28 maret 2017

Postingan Populer

Gambar

Bahasa Penyair