Kayu Manis
Kayu Manis
Tibalah masa-masa yang siap menggerusku
Masa yang siap menjajah jiwa dan ragaku
Berkutat tuk kuat dan meringis senyum tuk tangis
Tak berkutik ku walau setitik
Aku yang mulai terpapar hawa-hawa nafsu
Mencoba diam dan bertahan
Amarah kini hanya menjadi seringai
Kebencian kini menjadi tatapan tajam
Senyuman kini hanya kebohongan
Aku kembali pada masa kelam
Dimana kebencian ialah tampang
dan kemarahan adalah mimik
Inginku lontarkan beribu kalimat kutukan
Untuk jiwa-jiwa yang bersenyum dalam damai
Inginku hempaskan pekatnya kabut benci yang membutakan
Dalam setiap hembusan nafas-nafas yang terengah ini
Berbahagialah dengan indahnya tersenyum berseri
Niscaya kan kubakar segala mimpi-mimpi
Bencilah sebencinya engkau mengutuknya
Niscaya kan ku cabik segala kenangnya
Aku yang sendiri terus membarakan amarah kesepian
Dalam diam kembali ku pecah berkeping sendirian
Aku tak semenjijikan menjilat liur yang kubuang ketanah
Tak seindah butiran berlian menyilaukan nan megah
Kan ku lupa
Walau tak terlupa
Kan ku bunuh
Kelabang ingatan
Walau terluka semua kan hilang membekas
Karenanya ku bersumpah lenyapkan kenangnya
Tiada lagi inang menyemi dibelahan hati yang merundung
Membusuk dan mati,
Matilah...
Dendam ku pada manusia telah mengakar kuat dan berlipat
Aku yang berulang kali jatuh bagai keledai bodoh
Sekali lagi kan ku jatuh layaknya keledai bodoh
Lagi..
Lagi...
Lagi....
dan Lagi.
Ku berhenti ketika puspa khayangan
Menyambarkan api-api kehadirannya
Menyiramku dengan layang senyumnya
Ilahi, Ku berdoa dan berserah padamu
Untuk segalaku.
9 februari 2018 - Virdos K
Tibalah masa-masa yang siap menggerusku
Masa yang siap menjajah jiwa dan ragaku
Berkutat tuk kuat dan meringis senyum tuk tangis
Tak berkutik ku walau setitik
Aku yang mulai terpapar hawa-hawa nafsu
Mencoba diam dan bertahan
Amarah kini hanya menjadi seringai
Kebencian kini menjadi tatapan tajam
Senyuman kini hanya kebohongan
Aku kembali pada masa kelam
Dimana kebencian ialah tampang
dan kemarahan adalah mimik
Inginku lontarkan beribu kalimat kutukan
Untuk jiwa-jiwa yang bersenyum dalam damai
Inginku hempaskan pekatnya kabut benci yang membutakan
Dalam setiap hembusan nafas-nafas yang terengah ini
Berbahagialah dengan indahnya tersenyum berseri
Niscaya kan kubakar segala mimpi-mimpi
Bencilah sebencinya engkau mengutuknya
Niscaya kan ku cabik segala kenangnya
Aku yang sendiri terus membarakan amarah kesepian
Dalam diam kembali ku pecah berkeping sendirian
Aku tak semenjijikan menjilat liur yang kubuang ketanah
Tak seindah butiran berlian menyilaukan nan megah
Kan ku lupa
Walau tak terlupa
Kan ku bunuh
Kelabang ingatan
Walau terluka semua kan hilang membekas
Karenanya ku bersumpah lenyapkan kenangnya
Tiada lagi inang menyemi dibelahan hati yang merundung
Membusuk dan mati,
Matilah...
Dendam ku pada manusia telah mengakar kuat dan berlipat
Aku yang berulang kali jatuh bagai keledai bodoh
Sekali lagi kan ku jatuh layaknya keledai bodoh
Lagi..
Lagi...
Lagi....
dan Lagi.
Ku berhenti ketika puspa khayangan
Menyambarkan api-api kehadirannya
Menyiramku dengan layang senyumnya
Ilahi, Ku berdoa dan berserah padamu
Untuk segalaku.
9 februari 2018 - Virdos K
